Bacaan Hari Ini:
"Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun."
Yakobus 1:3-4
Real Talk: Alergi dengan Kata "Menunggu"
Kita hidup di era di mana semuanya serba instan. Pesan makanan datang dalam 20 menit, kirim pesan terbaca dalam hitungan detik, dan internet lemot sedikit saja sudah membuat kita kesal setengah mati. Kita terbiasa mendapatkan apa yang kita mau sekarang juga.
Mentalitas instan ini tanpa sadar terbawa ke dalam kehidupan rohani dan karakter kita.
Saat kita berdoa meminta kesabaran, kita berharap besok pagi bangun tidur kita langsung jadi orang yang super sabar. Saat kita memohon jalan keluar dari masalah, kita maunya besok langsung ada keajaiban.
Lalu apa yang terjadi saat Tuhan mengizinkan kita melewati jalan memutar yang panjang? Saat kita harus menghadapi masalah berbulan-bulan, atau saat doa kita seolah menggantung tanpa jawaban? Kita langsung protes: "Tuhan kok lama banget sih? Apa Tuhan lupa sama aku?"
Kita sangat benci proses karena proses itu tidak nyaman. Kita hanya menginginkan garis finish, tapi menolak untuk berlari di lintasannya.
The Truth: Emas Dimurnikan di Dalam Api
Yakobus memberikan sudut pandang yang sangat berbeda tentang kesulitan. Dia bilang ujian itu menghasilkan ketekunan, dan ketekunan itulah yang membuat kita "utuh" (berkarakter dewasa).
Sering kali, cara kita memandang nilai diri kita sama seperti bongkahan emas yang baru digali dari tanah. Memang itu emas, tapi masih bercampur dengan tanah, batu, dan kotoran. Bagaimana cara memisahkan kotoran itu? Tidak ada jalan pintas. Emas itu harus dimasukkan ke dalam tungku api yang sangat panas.
Di dalam suhu yang ekstrem, kotoran-kotoran (dross) akan meleleh dan terpisah, menyisakan emas murni yang bernilai sangat tinggi.
Kesulitan, penundaan, dan proses yang panjang adalah "tungku api" Bapa untuk memurnikanmu. Api itu bukan untuk menghancurkanmu, melainkan untuk membakar habis kesombonganmu, kemalasanmu, dan sifat gampang menyerahmu. Bapa jauh lebih peduli pada siapa kamu kelak (karaktermu) daripada seberapa cepat kamu sampai di tujuan. Jika kamu menolak prosesnya, kamu menolak pemurnian emas di dalam dirimu.
💌 Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku mendengar keluhanmu saat kamu merasa jalan yang harus kamu tempuh ini terlalu panjang dan berat. Kamu bertanya kapan penderitaan dan penantian ini akan berakhir.
Percayalah pada-Ku, Sang Pandai Emas. Saat kamu berada di dalam tungku pemurnian, mata-Ku tidak pernah lepas darimu sedetik pun. Aku mengontrol suhunya agar tidak sampai menghancurkanmu. Aku hanya membiarkannya cukup panas untuk melelehkan hal-hal yang menghambat potensi aslimu.
Tahukah kamu kapan seorang pandai emas tahu bahwa emasnya sudah murni? Yaitu ketika dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di permukaan emas tersebut. Itulah yang Aku rindukan. Bertahanlah sedikit lagi dalam proses ini, sampai dunia bisa melihat pantulan wajah-Ku di dalam karaktermu."
🔥 Langkah Kecil Hari Ini
1. Ubah Doamu: Saat menghadapi masalah hari ini, berhentilah berdoa, "Bapa, cepat hilangkan masalah ini." Ubah menjadi, "Bapa, karakter apa yang sedang Engkau bentuk di dalamku melalui masalah ini?"
2. Berhenti Membandingkan Timeline: Jika temanmu sepertinya mendapatkan "kesuksesan instan", jangan iri. Waktu panen setiap orang berbeda. Fokuslah pada proses pemurnianmu sendiri.
3. Syukuri Rasa Tidak Nyaman: Saat kamu merasa bosan atau lelah menunggu sesuatu hari ini, tarik napas dan katakan: "Proses ini sedang membuat mentalku menjadi emas yang murni."
🙏 Doa: Bapa, jujur saja aku sangat tidak suka menunggu dan aku benci rasa tidak nyaman. Aku sering meminta hasil instan tanpa mau melewati prosesnya. Hari ini, tolong ubah cara pandangku. Berikan aku kekuatan untuk bertahan di dalam "api" pemurnian-Mu. Aku tahu Engkau sedang membentukku menjadi pribadi yang utuh dan bernilai tinggi. Jadikan aku sabar menikmati setiap proses yang Engkau izinkan terjadi di hidupku. Amin.