Bacaan Hari Ini:
"Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah."
Yakobus 3:9
Real Talk: Memuji Pencipta, Menghina Ciptaan-Nya
Mari kita jujur, kadang kita hidup dengan standar ganda yang sangat parah.
Di hari Minggu, kita bernyanyi memuji Tuhan dengan suara lantang dan air mata berlinang. Tapi begitu keluar dari gedung gereja, di area parkir atau di jalan raya, lidah yang sama kita pakai untuk memaki orang yang memotong jalur kendaraan kita. Lidah yang sama kita pakai untuk merendahkan pelayan restoran yang salah mencatat pesanan, atau untuk bergosip menjatuhkan reputasi rekan kerja di kantor.
Tanpa sadar, kita sering menilai harga diri seseorang dari status sosialnya, penampilannya, atau seberapa menguntungkannya orang tersebut bagi kita. Kalau dia bos, dosen, atau orang kaya, kita sangat sopan. Kalau dia staf kebersihan, kasir minimarket, atau orang yang kita anggap "di bawah" kita, nada bicara kita tiba-tiba berubah menjadi arogan.
Kita merasa menjadi orang yang sangat rohani karena rajin berdoa, tapi kita lupa bahwa cara kita memperlakukan sesama adalah cerminan paling akurat dari hubungan kita dengan Tuhan.
The Truth: Sidik Jari Tuhan di Setiap Wajah
Surat Yakobus memberikan teguran yang sangat tajam. Dia menyoroti sebuah ironi: Bagaimana mungkin kamu memuji Tuhan, tapi di saat yang sama kamu mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Tuhan?
Coba bayangkan kamu memuji-muji seorang pelukis terkenal, bilang bahwa dia adalah seniman terhebat abad ini. Tapi kemudian, kamu mengambil karya lukisannya, meludahinya, dan menginjak-injaknya di depan matanya. Apakah pelukis itu akan merasa dihormati? Tentu tidak. Dia pasti tersinggung, karena karyanya adalah perpanjangan dari dirinya.
Prinsip yang sama berlaku untuk manusia. Setiap manusia termasuk orang yang paling menyebalkan di hidupmu, orang yang berbeda pandangan politik denganmu, dan orang yang ada di kelas sosial paling bawah membawa "sidik jari" dan gambar Bapa (Imago Dei).
Menghargai martabat manusia bukanlah sekadar soal sopan santun atau etika bersosialisasi. Ini adalah tindakan penyembahan. Saat kamu memperlakukan orang lain dengan hormat, terlepas dari siapa mereka, kamu sedang menghormati Sang Pencipta yang mendesain mereka.
💌 Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihat saat kamu menahan amarahmu dan memilih untuk berbicara lembut kepada orang yang melakukan kesalahan padamu. Itu sangat menyenangkan hati-Ku.
Tapi Aku juga bersedih saat melihatmu merendahkan orang lain. Ingatlah, orang yang kamu caci maki itu, orang yang kamu abaikan keberadaannya itu, adalah anak-Ku juga. Aku menciptakan mereka dengan tangan-Ku sendiri, sama seperti Aku menciptakanmu. Aku menebus mereka dengan darah yang sama mahalnya.
Tolong, pinjamlah kacamata-Ku hari ini. Lihatlah mereka bukan dari luarnya. Saat kamu melihat wajah saudaramu, temanmu, atau bahkan orang asing di jalanan, sadarilah bahwa ada gambar-Ku di sana. Perlakukanlah mereka sebagaimana kamu ingin memperlakukan Aku."
🔥 Langkah Kecil Hari Ini
1. Sapa Mereka yang "Tak Terlihat": Hari ini, berikan senyuman tulus dan sapaan ramah kepada orang-orang yang sering diabaikan (misal: satpam depan gedung, petugas kebersihan, atau ojek online). Buat mereka merasa dihargai sebagai manusia.
2. Jaga Lidah di Jalan Raya/Keseharian: Jika hari ini ada orang yang memancing emosimu (misal di jalan raya atau di kolom komentar medsos), tahan lisan dan jarimu. Ingat Yakobus 3:9 sebelum kamu merespons.
3. Ubah Kacamata Penilaian: Saat berhadapan dengan orang yang sangat menyebalkan, katakan dalam hati: "Orang ini juga diciptakan menurut rupa Tuhan, dan Tuhan juga mengasihinya."
🙏 Doa: Bapa, ampuni aku atas kemunafikanku. Sering kali mulutku memuji-Mu, namun tindakanku merendahkan ciptaan-Mu. Aku terlalu sering menilai orang dari status atau penampilannya. Hari ini, berikan aku mata yang baru. Tolong aku untuk bisa melihat gambar-Mu di dalam diri setiap orang yang aku temui. Ajar aku untuk menghargai mereka, sama seperti Engkau sangat menghargaiku. Amin.